Demi Masa

Showing posts with label iman. Show all posts
Showing posts with label iman. Show all posts

Tuesday, August 4, 2015

Saksi.

Bismillahirrahmanirrahim.

"Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad itu pesuruh Allah."

Sebuah persaksian yang membuktikan permulaan kita, pertengahan kita dan pengakhiran kita. Kalimat syahadatain yang kita ulang-ulang itu mengingatkan asal usul dari mana kita datang, apa tujuan kita dicipta dan ke mana akhirnya kita dikembali. Persaksian itu juga adalah untuk menyedarkan hakikat diri hanyalah sekadar hamba. Tidak lebih dari itu. Dan dunia ini hanya sementara. Segalanya akan ditinggal pergi.
 

credit
 

Dan (ingatkanlah tentang) hari Kami bangkitkan dalam kalangan tiap-tiap umat, seorang saksi terhadap mereka, dari golongan mereka sendiri; dan Kami datangkanmu (wahai Muhammad) untuk menjadi saksi terhadap mereka ini (umatmu); dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran menjelaskan tiap-tiap sesuatu dan menjadi hidayah petunjuk, serta membawa rahmat dan berita yang mengembirakan, bagi orang-orang Islam.
[An-Nahl 16:89]

Pada Yaumul Hisab, yakni hari kita diperhitung amalan, akan dihadapkan semua saksi-saksi atas diri kita. Sama ada mereka akan membela atau mendakwa kita. Dan diantara saksi-saksi itu adalah mereka yang sentiasa berada bersama-sama dengan kita. Tak kira sama ada ketika kita beribadat atau bermaksiat.

Pada waktu itu Kami meteraikan mulut mereka (sejurus); dan (memberi peluang kepada) tangan-tangan mereka memberitahu Kami (kesalahan masing-masing), dan kaki mereka pula menjadi saksi tentang apa yang mereka telah usahakan.
[Yasin 36:65] 

Teringat Ramadhan lepas, sewaktu mengikuti pengajian kuliah Dhuha di salah sebuah masjid. Kebetulan hari itu giliran Ayah yang menyampaikan kuliah. Ada satu point yang benar-benar menyentap diri sanubari ini. Kata Al Fadhil Ustaz Talha, "bahkan hari-hari yang kita lalui ini juga akan menjadi saksi untuk kita pada hari akhirat kelak."

Nah. Di mana lagi kita boleh lari? Sangkaan kita selama di dunia ini kita bersenang lenang bermaksiat tanpa sedar yang tangan ini akan mendakwa, kaki ini akan mendakwa, mata ini akan mendakwa, bibir ini akan mendakwa, telinga ini akan mendakwa, kulit ini akan mendakwa, malah setiap satunya akan membawa pendakwaan masing-masing. La haula wa la quwwata illa illah.

Dan akan bersinar terang-benderanglah bumi (hari akhirat) dengan cahaya Tuhannya; dan akan diberikan Kitab suratan amal (untuk dibicarakan); dan akan dibawa Nabi-nabi serta saksi-saksi; dan akan dihakimi di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dikurangkan balasannya sedikitpun.

[Az-Zumar 39:69]  

Tidak ada sesiapapun boleh lari dari hari tersebut. Bukankah setiap pada kita ada dua malaikat kanan dan kiri yang tak pernah leka mencatat? Kitab amalan itu tak tertinggal walau satu pun sehingga kita sendiri takjub pada perincian catatan tersebut.

Dan mereka tetap akan dibawa mengadap Tuhanmu dengan berbaris teratur, (sambil dikatakan kepada mereka): "Kamu sekarang telah datang kepada Kami - (berseorangan) sebagaimana Kami telah jadikan kamu pada mulanya; bahkan kamu dahulu menyangka, bahawa kami tidak akan menjadikan bagi kamu masa yang tertentu (untuk melaksanakan apa yang Kami telah janjikan)". Dan "Kitab-kitab Amal" juga tetap akan dibentangkan, maka engkau akan melihat orang-orang yang berdosa itu, merasa takut akan apa yang tersurat di dalamnya; dan mereka akan berkata:" Aduhai celakanya kami, mengapa kitab ini demikian keadaannya? Ia tidak meninggalkan yang kecil atau yang besar, melainkan semua dihitungnya!" Dan mereka dapati segala yang mereka kerjakan itu sedia (tertulis di dalamnya); dan (ingatlah) Tuhanmu tidak berlaku zalim kepada seseorangpun.

[Al-Kahfi 18:48-49]

Sudahlah menghadap berseorangan, dihukum tanpa ada teman yang sanggup membela. Malah teman-teman yang kita sangka sahabat di dunia ini juga akan lari untuk menyelamatkan diri masing-masing. Kecuali mereka yang bersahabat atas dasar iman dan taqwa.

Pada hari itu sahabat-sahabat karib: setengahnya akan menjadi musuh kepada setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan taqwa (iman dan amal soleh)

[Az-Zukhruf 43:67]

Apa hujahmu nanti ketika ditanya, "Untuk siapa segala amal ibadatmu? Adakah untuk dilihat baik di hadapan manusia? Adakah untuk dipuji oleh manusia?" Menangislah diri. Pada ketika ini, saat diri masih mampu menangis, menangislah sepenuh hati. Tanyakan kembali ke mana pergi 'ikhlas' diri. Semak kembali apa niat di hati.

Ketika hadir rasa di hati untuk bermaksiat, ingatkan diri yang sentiasa ada yang memerhati. Apabila dipujuk nafsu untuk melakukan kemungkaran, ingat kembali yang kita tak ada tempat bersembunyi dari saksi.

Nafsu itu fitrah setiap insan, tapi bukankah kita punya iman sebagai pengawalnya? 

"Dan tiadalah aku berani membersihkan diriku; sesungguhnya nafsu manusia itu sangat menyuruh melakukan kejahatan, kecuali orang-orang yang telah diberi rahmat oleh Tuhanku (maka terselamatlah ia dari hasutan nafsu itu). Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani."

[Yusuf 12:53]

Jikalau kita sentiasa ingat akan hari pertemuan dengan Tuhan, pasti setiap hembusan nafas, langkah kaki, gerak tangan, tutur kata, penglihatan dan pendengaran hanya demi mencari keredhaanNya. Tak terdetik untuk sekali pun ingkar. Hamba yang sentiasa berhati-hati pada perbuatannya itulah hamba yang bertaqwa. Bukankah itu yang dididik dalam madrasah Ramadhan?

(Lalu dikatakan kepada mereka: "Oleh sebab kelalaian kamu) maka rasalah azab seksa kerana kamu melupai pertemuan hari kamu ini. Sesungguhnya Kami pun tidak hiraukan keselamatan kamu lagi; dan (dengan yang demikian) rasalah azab yang kekal dengan sebab apa yang kamu telah kerjakan".

[As-Sajdah 32:14]

Kita tak selamanya di dunia ini. Untuk apa dikejar harta berbilion ringgit kalau hasilnya daripada sumber haram? Untuk apa dikejar pangkat dan kedudukan kalau ianya menjauhkan kita dari Tuhan? Untuk apa dilihat mulia kalau di sisi Allah kita tak lebih dari sekadar hamba?

Kembalikan dahimu setaraf kaki. Adukan segala kekhilafan diri. Nyatakan segala taubat di hati. Sebutkan, "Tuhan, aku kembali."

Sesungguhnya Kami tetap membela serta mempertahankan Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman - dalam kehidupan dunia ini dan pada saat bangkitnya saksi-saksi (pada hari kiamat)

[Ghaafir 40:51] 

Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya)! Dan sesiapa berbuat kejahatan seberat zarah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya)!

[Az-Zalzalah 99:7-8]

Tuhan tak pernah kejam, kawan!

Saturday, February 22, 2014

Terus kuat dan makin kuat.

Bismillahirrahmanirrahim.

Semoga permulaan dengan menyebut asma' Allah, sepanjang amal itu juga hanya untuk mengharap redhaNya.




Bukan mudah untuk kekal husnuzhon saat keadaan semakin merumit.

Saat keadaan menguji, iman turut diuji. Sama ada terus kekal yakin pada rahmatNya atau terus berputus asa.

Untuk mendapat syurgayang indah itu bukan mudah. Ada harga yang perlu dibayar. Mahal.

Kuat, mujahidah. Kuat!

Allah sedang berbicara supaya kamu tetap bergantung padaNya. 

Dan tetap yakin, Dia tak pernah menzalimi hambaNya. TAK PERNAH.


 

Wednesday, October 30, 2013

"Kami beriman, tapi kami tak mahu diuji."

Bismillahirrahmanirrahim.

Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: "Kami beriman", sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu cubaan)?  

[Al-'Ankabuut 29:2]



Mudah untuk kita melafaz dan mengakui diri kita beriman. Frasa itu terlalu mudah untuk dilafazkan di bibir. Terlalu mudah.

Tapi sejauh mana iman yang dilafaz itu memang benar-benar wujud dalam diri kita? Dalam hati kita? 

Apakah bila diuji kita akan redha dan ikhlas dengan semuanya atau kita akan mengeluh dan merungut?

Benarlah, iman itu bukan hanya di bibir, tapi di hati.

Dan ujian itu sebagai bukti sama ada kita benar-benar beriman atau tidak.

Seorang mukmin yang beriman itu redha dan ikhlas ketika diuji. Ketika dia diuji, dia sabar. Ketika dia diuji, dia terus mengharap keredhaan dan keampunan dari Allah. Ketika dia diuji, dia masih tersenyum dan bersyukur kerana Allah memilih dia untuk diuji.

Dia tidak menyalahkan takdir. Dia tidak mengeluh. Dan dia tidak pernah lelah untuk terus berdoa.

Dia yakin Allah tidak pernah menzalimi dirinya. Dia yakin Allah menimpakan sesuatu yang sesuai dengan kemampuan dirinya. Dia yakin qada' dan qadar. Dia yakin janji Allah benar.

Allahu Rabbi, jadikan aku dan keluargaku termasuk dalam hambaMu yang beriman dan terus yakin dengan hikmahMu. Kuatkan kami untuk terus melangkah menggapai redhaMu. Amin.

Semoga Ummi sihat-sihat sahaja dan cepat sembuh. Aku kadang-kadang tak sanggup melihat terlalu banyak wire di badan Ummi. 

Ya Allah, Engkau Yang Maha Menyembuhkan, Engkau Yang Maha Lembut, lindungilah ummi dengan sebaik-baik perlindunganMu, jagalah ummi dengan sebaik-baik penjagaanMu. Amin,

Hasbunallah wa nikmal wakil.
 

Tuesday, May 28, 2013

Nafs.

Bismillahirrahmanirrahim.

Praise to Allah for each and everything. Peace be upon Rasulullah SAW. I pray that Allah bless us in each breath we breathe. Amin.

The final exam has started. And my first two papers was today. Well, I'm just get back from the examination hall, if you would ask. As I finished my paper at 5 pm just now, I was wandering around alone at the business centre. My purpose was to looking for a new calculator. Then after I got one, I fulfilled my appetite as I was craving for cakes.

Walking alone at the stalls-way, made me see lots of couples were studying together. As if we could assume they were studying. Then I wonder, do they really need to study together? I mean, with the opposite gender of course. Is that more effective? No, seriously I'm asking, not that I'm being sarcastic.




 "And do not approach unlawful sexual intercourse. Indeed, it is ever an immorality and is evil as a way."
[Al-Isra' 17:32]


In my humble opinion, I would prefer to study with the same gender. I would be more comfortable to ask them questions, even silly questions. And I won't be shy or feels uneasy to sit and mingle with them.

Well, it's my personal opinion. I'm not forcing anyone to accept it.

As I walked pass them, I rethink, what if someday he ask me to study together, will I refuse his request?

Yeah, I doubt it too.

Now, I realized, this is all because of our lust, our nafs. It make us feel eager to do mungkar and we will always find excuses to do deeds. Astagfirullahal'azim.


"Indeed, those who fear Allah - when an impulse touches them from Satan, they remember [Him] and at once they have insight."
[Al-A'raaf 7:201]


Dear my brothers, women are created for you to protect, not to make us far from Allah. We admit, we are easily say 'yes' to you, but that doesn't mean you should make us to. 

Please, help us to be close to Allah. Remind us of Allah's love if your love for us is indeed true.

I mean it.

It is a sad fact that we often lost to syaitan.

Astagfirullah. *crying

Saturday, April 13, 2013

Yazid wa yankus.

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah masih mampu bernafas. Alhamdulillah masih mampu melihat. Alhamdulillah masih mampu mendengar. Alhamdulillah masih mampu menghidu. Alhamdulillah masih mampu berkata-kata. Alhamdulillah untuk segala-galanya Ya Allah. Segala puji hanya bagiMu. Selawat dan salam untuk Rasulullah SAW.

Peluang untuk bernafas lagi hari ini, mungkin satu nikmat mungkin juga rahmatNya memberi peluang untuk aku bertaubat atas dosa-dosa semalam. 

Iman. Yazid wa yankus.

Itu iman manusia.

Itu iman aku. Aku juga manusia.

Tahu graf sine(x)? Ada naik dan turun. Kala ini, aku rasa function untuk iman aku menghampiri sine (270). Sedih.

Entah kenapa. 

Rasa macam sangat jauh dengan Allah. Rasa macam hati makin keras. Rasa air mata kering untuk menangis taubat. Rasa aku bukan aku lagi.

Benci.

Aku rindu 'aku' yang selalu merindu majlis-majlis ilmu. Aku rindu 'aku' yang sentiasa berkejar untuk melakukan kebaikan. Aku rindu 'aku' yang itu.

Mana air mata?

Ke mana pergi hati yang tunduk sujud merendah pada tuhan?

Pilihan.

Antara yang banyak-banyak pilihan, kenapa aku pilih yang samar-samar jalannya.

Kenapa aku pilih untuk menjauh dari yang aku betul-betul yakin jalannya cerah bersuluh.

Yazid wa yankus.

Bila dia menurun, bukan bermakna terus biarkan dia terus menurun. 

Cari jalan untuk dia meningkat! ketuk kepala tu! Lempang pipi, kiri, kanan!

Berjalanlah, kembaralah melihat keindahan ciptaan Ilahi. Mencari ibrah. Melihat kekuasaan, menilai kelemahan diri.

Baru nanti, kau tahu tinggi rendahnya langit. 

Baru nanti kau sedar kecil besarnya engkau berbanding Al-Khaliq.



"Orang Mukmin melihat dosa ibarat gunung yang menghempapnya. Ahli maksiat pula melihat dosa ibarat lalat yang hinggap di hidungnya."